Thursday, October 15, 2009

Cinta Yang Tertanam Jauh Dilubuk Hati Paling Dalam

Kisah ini berawal dari pada saat menjalani PKL (Praktek Kerja Lapangan) di salah satu kantor ranting PLN tepatnya di Samosir Pengururan. Awal perkenalanku dengan dirinya yang tanpa disengaja pada saat kami dengan melakukan pemeriksaan jaringan listrik ke desa Ronggur-Nihuta yang berada di Samosir. Didesa tersebut kami dan tim singgah kewarung kopi yang ada didesa tersebut, desa tersebut termasuk susah dijangkau dan bisa dikatakan pelosok. Sambil minum kopi dan beristirahat perasaanku agak lain karena hampir 3 jam gak merokok dan mulut terasa basi apabila tak merokok. Diam-diam aku kedalam warung tersebut untuk meminta rokok karena takut ketahuan oleh kepala tim dan aku merokok kedalam warung. “kak, ada jual rokok batangan gak?” Tanyaku. “gak ada yang batangan” jawab gadis yang jaga warung. Terpaksa aku membeli satu bungkus karena gak jual rook batangan. “ya udahlah minta yang satu bungkus, tapi jangan ketahuan sama abang-abang yang diluar itu ya”!. Tak lama kemudian gadis itu membawakan sebungkus rokok dan secangkir kopi. Tak lama kemudian kami ngobrol dan berkenalan cerita panjang lebar “Namaku Rey, nama kamu siapa?” tanyaku. “Qia” Jawabnya. Dari pengakuan gadis tersebut dia baru saja menyelesaikan studinya dari salah satu SMA yang ada di Samosir. Ternyata dia lebih kakak senior atau setahun lebih tua dari usiaku. Tak lupa kami tukaran nomor handphone sebelum kami beranjak dari warung tersebut dan meneruskan perjalanan.
Sepanjang perjalanan aku kepikiran terus sama gadis yang jaga warung tempat kami beristirahat. Aku kebanyakan diam dan mengkhayal selama perjalanan hingga kami sampai dikantor. Malam harinya kami smsan sebelum tidur dan hampir setiap hari dan apabila ada waktu senggang pada saat tugas aku gak lupa sms dia. Entah ada apa dan gak tahu kenapa aku merasakan ada yang aneh terhadap diriku dan tak pernah sedetikpun aku lupa akan dia. Selama PKL kami jarang bertemu dan hanya pada saat moment tertentu saja kami dapat bertemu. Pada saat peringatan HUT RI tahun 2006 dia berkunjung kekantor dan kebetulan pada saat itu kami tugas siaga saat acara HUT RI untuk menghindari pemadaman arus listrik. Disela acara dia sms mau datang dan dengan terpaksa aku berbohong kepada kepala tim untuk pulang kekantor. Sesampai di tempat yang kami janjikan aku terkejut dan sedikit kecewa ketika melihat dia bersama dengan seorang pria pada saat itu. Dari pengakuannya pria itu dalah teman satu kampungnya, tak lama kemudian mereka pulang kembali kekampung mereka. Walaupun demikian hati terasa kecewa namun hati tetap tegar dan gak pernah menyerah utnuk memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku terhadapnya.
Malam harinya aku telp dia melalui handphone untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya. Walau agak sedikit kurang tepat apabila mengungkapkan perasaan lewat telp tapi aku gak perduli yang penting isi hatiku dapat terungkapkan. Tetapi sayang handphonenya gak diangkat gak tahu entah kenapa, mungkin belum saatnya.
Hari berganti hari hingga masa berakhirnya PKL pun semakin dekat. Pada saat pulang ke Medan aku gak sempat berpamitan kepadanya berhubung bus yang aku tumpangi sudah mau berangkat jadi tak sempat lagi untuk meyuruh dia datang ke loket bus yang aku tumpangi. Sepanjang perjalanan aku masih memikirkannya dan merindukannya, hingga sampai di Medan aku gak lupa untuk kasih kabar kepadanya. Setelah beberapa hari komunikasi diantara kami masih lancer. Aku sempat menanyakan mau melanjutkan pendidikan kemana, tetapi ia menjawab mau ikut audisi penyiar radio di Parapat. Aku sempat menanyakan mengenai niat untuk melanjutkan pendidikan untuk kuliah di Medan. Besar harapanku untuk dapat bertemu lagi dengannya apabila ia melanjutkan pendidikannya. Sejak saat itu kami sudah jarang komunikasi dan mencoba mengurungkan niat ku untuk mengungkapkan perasaanku padanya. Mengingat teguran dari orangtua kalau kami gak boleh pacaran karena terbentur di marga kami masing-masing bahwa Manurung dan Silalahi itu gak boleh menjalin satu hubungan hanya dipebolehkan apabila sebaliknya Silalahi ke Manurung. Namun walaupun demikian aku tak dapat untuk menutupi dan membohongi perasaanku sendiri bahwa aku mencintainya. Setelah beberapa bulan gak ada kabar dari dia, tiba-tiba dia sms dan memberitahukan bahwa ayahnya masuk rumah sakit dan akan dibawa ke Siantar untuk berobat, dian sangat sedih pada saat itu. Aku mencoba menghibur dan menyemangati dia agar tidak bersedih lagi dan berdoa untuk kesembuhan ayahnya. Tiba-tiba ia mengungkit lagi hal-hal kemaren dan seakan memberiku peluang untuk mengungkapkan perasaanku padanya walaupun sempat aku mencoba untuk menghapus rasa itu dan kini tumguh kembali. Sejak saat itu kami jadian walau hanya melalui telp.
Tak lama kemudian aku mengalami masalah ekonomi anak kost jadi terpaksa aku menjual handphone untuk menutupinya. Kurang lebih 3 bulan nomorku gak aktif dan mau gak mau komunikasi antara kami terputus. Setelah aku mebeli handphone baru aku mencoba untuk menghubunginya tetapi nomornya juga gak aktif. Sejak itu terhitung empat bulan lamanya kami gak ada komunikasi. Sehabis tahun baru ia menelpon pakai nomor baru dan kami saling menanyakan kabar dan komunikasi antara kami pulih kembali. Semakin hari rasa itu semakin bertumbuh walau jarak memisahkan kami.
Hingga pada suatu saat ia mengabari bahwa ia mau datang kemedan untuk mengikuti pelatihan penanggulangan bencana alam. Saat itu hatiku sangat senang mendengarnya dan akan bertemu dengannya. Waktunya tidak banyak sehingga aku tidak sempat untuk membawanya jalan-jalan kepusat perbelanjaat atau jajanan. Bulan depannya aku merencanakan untuk pergi ke Parapat utnuk bertemu dengannya sekalian jalan-jalan. Aku berangkat bersama dengan seorang temanku dari Medan menuju Parapat menumpangi salah satu bus yang arahnya menuju kota tersebut. Sesampainya aku disana hari sudah sore, ia pun menyambut kami dengan senang dan langsung mengantarkan kami ketempat penginapan salah satu kenalannya. Kemudian esok harinya kami jalan-jalan ketepi danau Toba dan menyewa sepeda air. Kami saling bercerita sambil mendayung sepeda air tersebut. Sehabis dari situ kami melanjutkan perjalanan menuju Tomok denan menggunakan kapal feri tujuan Tomok. Kapal tersebut menyeberangi Danau Toba yang begitu luas dan pemandangan yang sangat indah. Hatiku sangat senang sekali pada saat itu dengan keberadaannya disampingku sambil menikmati keindaha pemandangan danau toba.
Sesampainya di tomok kami langsung kepusat perbelanjaan souvenir lalu berkeliling melihat sigale-gale. Lalu kami pulang keparapat berhubung hari sudah sore. Tiba diparapat ia mengantarkan kami loket dimana bus yang menuju Medan akan berangkat. Sambil menunggu keberangkatan aku bertanya kepadanya dan meminta pendapatnya mengenai hubungan yang sedang kami jalin. “Sebenarnya kita itu gak boleh pacaran, ayahku menegur dan melarangku”. Kataku. “aku juga tahu itu, tapi mau gimana lagi. Kita jalani aja dulu, kalau juga suatu saat nanti kita harus berpisah pasti ada jalannya. Jadi gak usah terlalu dipikin” ucapnya. Aku tahu kalau kami gak akan bias bersatu, karena kami telah melanggar aturan diadat batak. Tetapi aku gak bias membohongi perasaanku kalau aku sangat mencintainya, dan orang lain gak akan pernah mengerti seberapa besar rasa cintaku terhadapnya.
Sebulan kemudian sejak kepulanganku dari Parapat ikatan jalinan kasih diantara kami semakin erat walaupun banyak tantangan yang kami hadapi. Saat berbincang lewat telp kami menyinggung masalah hubungan kami dan mencoba mencari jalan keluarnya. Ternyata ia juga kena tegur oleh ayahnya saat ia pulang kekampung halaman untuk berziarak kemakan ibundanya. Dikampung ia bercerita kepada ayah dan kakaknya mengenai hubungan kami, secara spontan mereka marah dan melarangnya. Kami sangat bingung pada saat itu memikirkan masalah tersebut dan gak ketemu jalan keluarnya. Jujur aku gak sanggup untuk kehilangan dia kalau memang harus berpisah dan melepasnya begitu saja. Haruskah kami mengorbankan perasan kami???
Pertanyaan yang timbul dipikiranku adalah kenapa kami harus dipertemukan dan saling mencintai, kenapa tiadak seperti pertemuan dengan gadis yang lainnya dan kesannya hanya biasa saja????
Belakangan aku baru tahu setelah dia mengatakan latarbelakang dirinya yang sebenarnya bahwa ia adalah keturunan bule dan dibesarkan oleh ayahnya yang sekarang yaitu keluarga marga Silalahi. Mendengar hal tersebut timbul ego didalam pikiranku. “Ah…bukan darah silalahi hanya saja diangkat menjadi boru silalahi, bila perlu aku akan mebawanya pergi dimana gak ada berlaku istilah marga”.
Mendengar hal itu ia menjawab “Semudah apa engkau merubah dan menjelaskan pada semua orang, sejak kecil hingga sekarang semua orang tahu bahwa aku boru Silalahi” jawabnya.
Semenjak itu dia menghilang entah kemana, lagi-lagi komunikasi antara kami terputus hingga beberapa bulan. Dan tiba-tiba dia menghubungiku dan memberitahukan kalau ia mau berangkat kepapua ikut abang dan kakaknya untuk bekerja disana. Setelah itu dia menghilang lagi hingga aku berusaha untuk melupakannya. Selama gak ada kabar darinya aku mencoba untuk membuka hati bagi hati yang lain namun hasilnya gagal. Aku gak bias mencintai orang lain dengan sepenuh hatiku. Hampir setengah tahun gak ada kabar darinya, dan hingga satu saat ia hadir kembali dalam hidupku yang membuat aku semakin terpuruk dalam perasaanku sendiri. Ia mengatakan bahwa ia akan dijodohkan oleh keluarganya di Papua dengan kenalan mereka. Ia meminta pendapatku dan pada saat itu aku tak dapat mengatakan apa-apa dan mencoba menjelaskan bahwa cinta tak selamanya harus memiliki walaupun aku sendiri tak sanggup untuk menerima kenyataan tersebut. Tetapi ia tetap gak terima dan berusaha untuk melarikan diri dari Papua, dan ketika kutanyakan apabila engkau lari dari kenyataan maka apa yang akan kamu lakuin? Lalu ia menjawab mau lari ke Medan. Tetapi aku mencoba untuk menetralkan pikirannya untuk tidak berbuat hal yang merugikan banyak pihak tersebut. Hampir setiap malam ia menelpon sambil menangis dan mengadu kepadaku. Namun apa yang hendak aku lakukan selain memberi pendapat dan menerima kenyataan dan menjalaninya.
Selang beberapa bulan ia meberiku kabar dan menerima lamaran kenalan keluarganya tersebut, dari pengakuannya calonnya tersebut baik. Ia adalah petugas atau polisi di kota dimana ia tinggal. Aku hanya terdiam dan tanpa sadar setetes demi setetes air matakupun mulai berjatuhan. “Aku hanya mengikuti apa yang kamu katakan” Jawabnya.
Betapa hancur hati saat itu mendengar kabar tersebut, aku mencoba menutupi kesedihan dan kehancuran hatiku. Aku hanya dapat mngucapkan selamat kepadanya dan berdoa semoga dia bahagia. Hampir tiap malam aku teringat akan dia, kenangan dan masa-masa indah bersamanya. Dengan mendengarkan lagu yang sering kami putar dulu yang semakin meneteskan air mataku semakin deras. Aku gak tahu harus bagaimana lagi. Bulan maret tahun depan 2009 dia akan melangsungkan pernikahannya. Pikiranku melayang-layang entah kemana. Walau demikian dia masih sering telp dan sms aku, tetapi aku melarangnya. “gak baik kamu menghubungi aku, kamu itu calon istri orang lain dan gak baik kalau kamu masih berhubungan dengan aku” kataku. “Aku gak ada maksud apa hanya ingin memanfaatkan waktu yang tersisa untuk menghabiskan waktu dan menghubungimu” jawabnya. Aku hanya sms dia aat hati ku menangis mengingat dia ketika malam tiba. “Tuhan pasti punya jawaban atas semua ini, jujur aku masih sangat mencintaimu walaupun aku sudah calon sistri orang lain namun cintaku akan tetap hidup dan abadi didalam hatiku hingga aku mati. Kamu gak boleh bersedih terus aku ingin kamu tersenyum untukku” ucapnya. Entah kenapa begitu sakit kenyataan yang aku terima namun cinta didalam hati selalu mampu untuk memaafkannya. Aku hanya merenung dan mengkhayal hampir setiap malamnya. Terakhir dia bertanya dan meminta untuk dapat tersenyum. “kalau aku bilang aku bahagia dan sayang banget sama calon aku apa kamu juga iktu bahagia? Kamu harus jawab jujur” tanyanya. “ya…itu merupakan bagian dari doaku agar engkau bahagia, kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga” jawabku walaupun sebenarnya berat bagiku untuk menerima kenyataan. Sejujurnya aku sangat mencintainya, namun kenyataan memutar belik semuanya hingga perjalanan cinta menjadi tertanam jauh dilubuk hati paling dalam. Biarlah kenangan dan cinta ini ku simpan dalam-dalam untuk kujadikan kenangan dalam hidupku yang tak akan pernah kulupakan.
“Semoga Bahagia & Selamat Jalan”!!!!!

Bagikan

Jangan lewatkan

Cinta Yang Tertanam Jauh Dilubuk Hati Paling Dalam
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online